Ibukota –
Multazam Ka'bah merupakan sebuah area penting di dalam Masjidil Haram yang digunakan menjadi pusat perhatian berbagai jemaah haji kemudian umrah.
Multazam terletak di antara Hajar Aswad lalu pintu Ka'bah, Multazam merupakan tempat yang digunakan penuh makna juga berkah pada tradisi Islam.
Secara bahasa, “Multazam” berasal dari kata "lazim" yang dimaksud berarti "melekat/menempel". Dalam konteks ini, Multazam merujuk pada area pada mana dinding Ka'bah tampak menempel dengan bagian yang mana tambahan rendah dari pintu Ka'bah.
Tempat ini diyakini memiliki keutamaan lalu berubah menjadi tempat kejadian yang dianjurkan untuk berdoa, sebab sejumlah jamaah percaya bahwa doa yang tersebut dipanjatkan dalam di tempat ini lebih banyak enteng diterima.
Setiap jamaah berupaya mencapai tempat yang digunakan mustajab tersebut, dengan berdoa secara khusyuk. Mereka bersimpuh, memohon ampunan, serta mengajukan beraneka harapan terhadap Allah SWT.
Selain berdoa ke Multazam, jamaah juga berlomba menggapai pintu Ka'bah. Mereka memeluk rumah Allah SWT sambil memohonkan lalu berdoa untuk keberkahan globus juga akhirat.
Dalam Multazam, Rasulullah SAW bersabda, “Antara rukun Hajar Aswad juga pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak pribadi pun hamba Allah SWT yang berdoa pada tempat ini, kecuali dikabulkan doanya,”
Karena keistimewaannya, Rasulullah SAW pernah mendekapkan wajah lalu dadanya dalam Multazam sambil berdoa. Kisah yang dimaksud tercantum di hadis yang mana diriwayatkan oleh Abu Daud serta Ibnu Majah.
Rasulullah SAW juga pernah memanjatkan doa khusus ke Multazam, ”Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka’bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami kemudian anak-anak kami dari belenggu api neraka Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebakan. Ya Allah jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, terpencil dari segala kehinaan dunia dan juga siksa akhirat,”
”Ya Allah, aku ini hamba-Mu lalu anak hamba-mu yang tersebut sedang berdiri pada bawah rumah-mu pada Multazam, aku menghadap serta bersimpuh di dalam hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan,".
"Ya Allah aku memohon kepada-Mu terimalah zikir-ku (pada-Mu), hilangkanlah dosa-dosaku, lancarkanlah urusanku sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku kemudian aku mohon pada-Mu berikanlah derajat lebih tinggi dalam surga,” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali).
Lalu doa apa yang disunnahkan ketika sedang melakukan Multazam?
Sebenarnya bukan ada riwayat tentang doa khusus dalam Multazam. Namun, Imam An-Nawawi pada kitab Al-Adzkar, juz 1, hal 195, menyebutkan doa yang disunnahkan untuk dibaca sewaktu berada di dalam Multazam yaitu:
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَكَ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَكَ أَحْمَدُكَ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَم أَعْلَمْ وَعَلَى جَمِيْعَ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اللهم أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَأَعِذْنِيْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَقَنَعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ اللهم اجْعَلْنِيْ مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ وَأَلْزِمْنِيْ سَبِيْلَ الْلإِسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhumma lakal hamdu hamdan yuwâfî ni‘amaka wa yukâfi‘u mazîdaka. Ahmaduka bi jamî’i mahâmidika mâ ‘alimtu minhâ wa mâ lam a‘lam wa alâ jamî’i ni‘amika, mâ ‘alimtu minhâ wa mâ lam a’lam wa alâ kulli hâl. Allâhumma shalli ala Muhammadin wa ala âli Muhammadin. Allâhumma a‘idznâ minasy syaithânir rajîm wa a‘idzni min kulli sû` wa qann‘ni bi mâ razaqtanî wa bârik lî fîhi. Allâhummaj ‘alnî min akrami wafdika ‘alaika wa alzimnî sabîlal istiqâmati hattâ alqâka yâ Rabbal âlamîn.
Artinya, “Ya Allah, bagi-Mu pujian, (dengan) pujian yang dimaksud meliputi seluruh anugerahmu. Aku bersyukur pada-Mu menghadapi segala macam pemberian-Mu, baik yang digunakan kuketahui ataupun yang tersebut tiada kuketahui, juga melawan segala nikmat-Mu, baik yang digunakan kuketahui ataupun yang tersebut tak kuketahui, dan juga berhadapan dengan segalanya. Ya Allah, sholawat dan juga salam semoga tercurah limpahkan pada Nabi Muhammad lalu keluarganya. Ya Allah, lindungi aku dari setan yang tersebut terkutuk, lindungi pula aku dari segala kejelekan, cukupi aku dengan segala yang Kauberikan kepadaku, serta berkahi aku di rezeki tersebut. Ya Allah, jadikan aku sebagai tebusan yang mana terbaik terhadap-Mu, kemudian tetapkan aku pada jalan yang tersebut istiqamah hingga aku kelak bertemu dengan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Sebagai informasi tambahan, Multazam tidaklah miliki batasan waktu khusus, sehingga jemaah bisa saja mengunjungi kemudian berdoa di tempat ini kapan semata selama berada dalam Masjidil Haram.
Namun, penting bagi para jemaah untuk menjaga adab lalu etika selama berada di dalam Multazam agar tiada mengganggu ibadah jemaah lainnya.
Dengan memahami arti serta keutamaan Multazam, diharapkan jemaah dapat memanfaatkan momen mereka itu dalam Masjidil Haram dengan lebih banyak maksimal, dan juga memperoleh kegunaan spiritual yang tersebut mendalam selama pelaksanaan ibadah haji serta umrah.
Artikel ini disadur dari Memahami arti Multazam Ka’bah dalam ibadah haji dan umrah