Analisis Taktik: Bagaimana Atalanta Menghentikan Dominasi Tak Terkalahkan Bayer Leverkusen di Final Liga Europa

Final Liga Europa 2024 menyajikan kejutan besar saat Atalanta dari Serie A Italia berhasil mengakhiri rekor tak terkalahkan Bayer Leverkusen yang diasuh Xabi Alonso. Dengan kemenangan telak 3-0, tim asuhan Gian Piero Gasperini sukses meraih gelar juara, sekaligus memberikan kekalahan perdana bagi Die Werkself musim ini. Lantas, bagaimana strategi jitu Atalanta meredam kekuatan Leverkusen yang perkasa? Mari kita ulas tuntas dari aspek statistik hingga taktik.
Statistik Pertandingan: Efisiensi Atalanta Versus Dominasi Penguasaan Bola Leverkusen
Secara statistik, kedua tim menunjukkan performa yang berbeda. Leverkusen memang unggul dalam penguasaan bola hingga 67%, namun Atalanta lebih superior dalam penciptaan peluang. Meski sama-sama melepaskan 10 tembakan dan menciptakan satu big chance, nilai expected goals (xG) Atalanta lebih tinggi, menunjukkan efisiensi mereka dalam mengonversi peluang menjadi gol. Kunci kemenangan Atalanta terletak pada kemampuan mereka untuk lebih klinis di depan gawang.
Taktik Gasperini: High Press dan Man-to-Man Marking yang Mematikan
Atalanta berhasil menyulitkan Leverkusen dengan menerapkan high press dan man-to-man marking yang disiplin. Taktik ini terbukti efektif membuat permainan Leverkusen tidak berkembang, bahkan memaksa mereka sering melakukan kesalahan saat membangun serangan dari belakang. Ingat bagaimana Atalanta juga berhasil membungkam Liverpool 3-0 di Anfield dengan ide taktik serupa?
Formasi dan Penempatan Pemain
Kedua tim sama-sama turun dengan formasi 3-4-2-1.
Atalanta:
- Pertahanan: Berat Djimsiti, Isak Hien, Sead Kolasinac
- Gelandang Tengah: Marten de Roon, Ederson
- Wing-back: Matteo Ruggeri (kiri), Davide Zappacosta (kanan)
Penyerang: Gianluca Scamacca ditopang Ademola Lookman dan Charles De Ketelaere sebagai double number 10.
Leverkusen:
- False Nine: Amine Adli
- Gelandang Serang: Jeremie Frimpong (didongkrak lebih depan dari posisi wing-back kanan), Florian Wirtz
- Wing-back: Josip Stanisic (kiri), Alejandro Grimaldo (kanan)
- Gelandang Tengah: Exequiel Palacios, Granit Xhaka
Implementasi Pressing Atalanta
Atalanta langsung menerapkan pressing berbasis man-to-man saat Leverkusen membangun serangan. Kesamaan formasi memudahkan Gasperini dalam melakukan marking, karena secara natural terjadi “tumbukan formasi” antar pemain di posisi yang sama:
- Tiga penyerang Atalanta menjaga tiga center-back Leverkusen.
- Dua gelandang Atalanta menjaga dua gelandang Leverkusen.
- Wing-back Atalanta menjaga wing-back Leverkusen di area lebar lapangan.
Di belakang blok press, salah satu center-back Atalanta akan step up untuk menutup pemain Leverkusen di ruang antarlini. Dengan ini, Atalanta berhasil menutup semua opsi umpan Leverkusen, baik umpan progresif ke depan maupun umpan sirkulasi ke samping.
Ketika Leverkusen melakukan sirkulasi bola ke area lebar lapangan, wing-back Atalanta akan langsung naik dan menerapkan pressing trap, mempersempit ruang gerak wing-back Leverkusen. Man-to-man marking dan pressing trap ini terbukti menyulitkan anak asuh Xabi Alonso, sering kali memaksa pemain Leverkusen melakukan kesalahan di area pertahanan mereka sendiri.
Contohnya, pressing trap Atalanta di sisi kanan berhasil meredam taktik wide overload Leverkusen, memaksa Grimaldo dan Hincapie melakukan kesalahan sehingga possession jatuh ke tangan pemain Atalanta. Dalam laga ini, Atalanta berhasil melakukan 12 kali high turnover, merebut possession di area pertahanan lawan. Taktik ini membuat permainan Leverkusen tidak berkembang, dan Atalanta berhasil unggul dua gol di 30 menit pertama.
Gol-Gol Kunci dan Peran Individu
Gol Pertama (Menit ke-12): Berawal dari sisi kiri pertahanan Leverkusen, Zappacosta yang lepas dari penjagaan Florian Wirtz melepaskan cutback ke kotak penalti. Dua penyerang Atalanta mengikat dua center-back Leverkusen di area jauh, sementara Palacios terlalu fokus pada bola dan tidak menyadari pergerakan Ademola Lookman yang muncul dari blind spot-nya, mengakhiri peluang menjadi gol.
Gol Kedua (Menit ke-26): Berawal dari high press man-to-man marking yang menutup semua opsi umpan terdekat, kiper Leverkusen terpaksa melepaskan long ball ke depan. Sundulan Adli yang tidak akurat dalam memantulkan bola ke Wirtz membuat possession lepas dan dikuasai oleh Lookman. Winger lincah ini melakukan aksi individu melewati Xhaka sebelum melepaskan tendangan melengkung ke tiang jauh. Lookman menunjukkan teknik dropping shoulder dan hentakan kaki kiri yang mengecoh Xhaka sebelum mengubah arah _dribble_nya ke kanan.
Solidnya Lini Belakang Atalanta
Selain block press di depan yang mengganggu build-up Leverkusen, backline Atalanta juga berperan penting dalam meredam serangan. Mereka harus cermat dalam menjaga ruang antarlini dan di saat yang bersamaan menjaga ruang di belakang agar tidak terekspos. Salah satu center-back Atalanta berperan meng- cover ruang antarlini yang cukup lebar saat dua gelandangnya naik.
Leverkusen sempat mencoba menarik dua gelandang Atalanta dengan umpan-umpan pendek untuk mengekspos ruang antarlini dengan Florian Wirtz, namun skema ini berhasil digagalkan oleh Djimsiti yang melakukan man-marking kepada Wirtz.
Problem utama lini depan Leverkusen adalah tiga penyerangnya yang sering kali kalah duel fisik dengan back-back Atalanta. Backline Atalanta juga sering menerapkan garis pertahanan tinggi (rata-rata 46,9m, berbanding 33,5m Leverkusen) untuk menyesuaikan dengan high press di depan. Meskipun ada risiko ruang lebar di belakang, Atalanta lebih waspada setelah peluang yang sempat terekspos oleh Stanisic yang melepaskan through pass kepada Frimpong. Ruggeri menjaga posisinya dengan tidak terlalu naik mengikuti Frimpong, sehingga unggul momentum saat Wirtz melepaskan through pass.
Perubahan Taktik dan Gol Penutup
Menanggapi kesulitan lini depan, Xabi Alonso memasukkan Victor Boniface, striker dengan keunggulan fisik, untuk berduel dengan back-back Atalanta. Boniface beberapa kali berhasil menahan bola, namun serangan Leverkusen masih belum bisa menembus pertahanan Atalanta.
Gasperini juga melakukan perubahan dengan memasukkan gelandang Mario Pasalic menggantikan De Ketelaere. Pergantian ini memberikan keseimbangan saat Atalanta sudah unggul 2-0.
Pada babak kedua, Atalanta masih mempertahankan man-to-man marking namun dengan keunggulan dua gol, mereka lebih bermain menunggu dan menyerang dengan transisi, yang menghasilkan gol ketiga di menit ke-75.
Gol Ketiga (Menit ke-75): Berawal dari Pasalic yang meng- cover ruang di antara center-back dan wing-back yang melebar. Mantan gelandang AC Milan ini berhasil melakukan intersepsi dan menginisiasi serangan balik. Scamacca membawa bola hingga ke final third sebelum melepaskan umpan ke Lookman. Pemain bernomor punggung 11 ini kembali menunjukkan _skill_nya dengan melakukan step over untuk mengecoh Tapsoba sebelum melepaskan tembakan keras kaki kiri yang menghujam gawang Leverkusen.
Sejarah Baru untuk Atalanta dan Gasperini
Ademola Lookman menjadi pemain pertama yang berhasil mencetak hat-trick di final Liga Europa, sebuah pencapaian luar biasa. Selain memutus rekor tak terkalahkan Leverkusen, kemenangan ini juga mengunci gelar Liga Europa bagi La Dea. Gelar ini merupakan trofi pertama bagi Gian Piero Gasperini sepanjang karier melatihnya, dan juga menjadi trofi pertama bagi Atalanta sepanjang sejarah klub.




